Toyota secara resmi telah mengumumkan penutupan pabrik mobil
Altona di Melbourne Australia. Sebelum Toyota, Ford sudah lebih dulu melakukan
hal serupa pada Oktober tahun lalu. Kemudian dalam waktu dekat General Motors
juga akan mengikuti jejak kedua produsen mobil tersebut.
Sebenarnya keputusan Toyota untuk menutup pabriknya di
Australia telah diberitahukan sejak 2014. Raksasa automotif asal Jepang itu
memilih menutup pabrik karena tingginya biaya produksi serta nilai mata uang di
Negeri Kangguru tersebut.
Nantinya pabrik Altona akan dibangun ulang dan beralih
fungsi sebagai tempat untuk pelatihan dan pengembangan produk. Selain itu akan
mengalihkan segala bentuk penjualan dan pemasaran dari Sydney ke markas
besarnya di Melbourne. Demikian seperti dilansir dari Carscoops.
Toyota Tiara menjadi produk pertama yang diproduksi di
pabrik Port Melbourne pada April 1963. Lalu seiring mulai meningkatnya
permintaan terhadap produk Toyota, maka dibangun pabrik baru yaitu Altona pada
Juli 1994. Dari pabrik tersebut lahirlah Corolla yang selalu mendapat sambutan
positif dari konsumen.
Untuk memenuhi permintaan pasar, Toyota akan melakukan impor
dari beberapa negara. Produk Toyota yang paling populer di sana adalah Camry.
Selama ini sedan tersebut diproduksi secara lokal. Rata-rata penjualannya
mendekati 30 unit setiap tahun.
Toyota berharap tidak ada penurunan permintaan jika nantinya
produk-produk mereka didatangkan secara impor, terutama untuk Camry. Sales and
Marketing Chief Toyota Australia Sean Hanley mengatakan bahwa perusahaan tidak
mengharapkan dampak negatif terhadap penjualan secara keseluruhan di tahun
depan.
"Mengingat posisi Camry yang kami bawa masuk merupakan
mobil dengan spesifikasi tinggi, jelas akan ada beberapa penyesuaian jumlah.
Jadi kita tidak akan menghitung 30 ribu unit sama seperti saat Camry diproduksi
lokal setiap tahunnya. Namun, kami tidak melihat bisnis kami akan mundur secara
keseluruhan," katanya mengutip dari Caradvice.
Sean yakin bahwa bisnis Toyota kedepannya akan tumbuh karena
pihaknya telah menyiapkan beragam strategi untuk menghadapi pasar di masa
depan.
"Kami melihat bisnis kami akan berkembang di masa
depan, kami berencana untuk tumbuh. Kami akan melakukannya dengan dua faktor,
satu, kita akan memiliki beberapa produk baru yang akan datang dalam tiga tahun
ke depan. Tidak hanya itu, kami memiliki car parc terbesar di negara ini,"
tambah Sean.
Dijelaskan Sean bahwa selama empat tahun terakhir,
perusahaannya telah menjual sekira 100 ribu Camry, dan berharap pelanggan setia
dengan sedan tersebut.
"Kami memiliki jaringan yang begitu luas, seperti car
parc besar, yang kami percaya lewat loyalitas dan retensi dan produk. Kami akan
terus Kembangkan bisnis kita," pungkas dia.
Toyota merupakan merek paling populer di Australia. Dengan
pasar penjualan automotif sebesar 1,14 juta unit mobil di Australia pada tahun
lalu, seperlimanya telah dikuasai oleh Toyota. Dari keseluruhan penjualan
Toyota tersebut, ternyata hanya sebanyak 10 persen yang diproduksi dalam
negeri.
Selama 54 tahun berada di Australia, Toyota sudah membangun
3.451.115 kendaraan. Dengan hengkangnya Toyota dari Australia maka akan ada
sekira 2.500 orang yang kehilangan pekerjaan. Sedangkan dengan hengkangnya
Ford, maka akan memakan korban pengangguran sekira 1.200 orang.
"Tentu saja ini menjadi berita buruk bagi para karyawan
kami yang telah mendedikasikan hidupnya untuk perusahaan selama kurang lebih 50
tahun," ujar Toyota Australia President and CEO, Max Yasuda.
"Kami telah melakukan segalanya untuk mengubah bisnis
kami dalam dua tahun belakangan. Namun faktanya ada banyak faktor yang di luar
kontrol kami, sehingga membuat kami tidak bisa bertahan lagi untuk merakit
mobil di Australia," tambahnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar