Mobil listrik tidak selamanya menjadi teknologi yang ramah
lingkungan. Dengan adanya keterbatasan masa pakai dari baterai yang digunakan
sebagai suplai tenaga, mendatangkan masalah baru terhadap limbah yang memiliki
efek negatif pada lingkungan.
Lantas apa solusinya, menjawab pertanyaan tersebut, Presiden
Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono,
mengatakan, Toyota saat ini sedang fokus mengembangkan baterai dengan teknologi
baru selain lithium.
"Kita sedang kembangkan, tapi apa saja, lupa
teknologinya. Di mana baterai itu memperpanjang life time dan kedua charging
time line-nya supaya rendah," kata Warih di Karawang, Jawa Barat, Rabu
(30/8/2017).
Menurut Warih, sampai saat ini status pengembangan dari
baterai tersebut sudah berjalan. Sedangkan saat ditanya akan masuk Indonesia,
Warih mengatakan bakal ada langkah-langkahnya, namun kemungkinan besar untuk
tahap awal akan dikirim dalam kondisi utuh alias completely build up (CBU),
setelah itu baru di completely knocked down (CKD).
“Tentu saja kami mau nanti fuel efficient vehicle part by
part seperti mobil Kijang Innova sekarang. Supaya Industri bukan hanya Toyota
tapi supply change bisa ikut,” jelas Warih.
Juru bicara Toyota, Kayo Doi menuturkan jika perusahaan tak
akan mengomentari rencana spesifik produk, namun mereka memastikan bakal
mengkomersilkan baterai solid-state pada awal 2020.
Harapannya adalah dengan mobil dan baterai jenis anyar ini
mereka dapat mengejar ketertinggalannya dari penguasa pasar mobil listrik saat
ini, Nissan dan Tesla.
Saat ini kendaraan listrik yang dipasarkan oleh pabrikan
mobil memiliki daya jelajah antara 300-400 kilometer dengan waktu isi ulang
sampai penuh menggunakan fasilitas fast charging antara 20-30 menit. Namun
dengan menggunakan teknologi baru baterai solid, tenaga yang disimpan bisa
lebih banyak namun tidak membutuhkan waktu charge yang lama dibandingkan dengan
jenis lithium ion.
Sementara waktu charge mobil listrik Toyota hanya membutuhkan
beberapa menit saja sampai penuh. Mobil tersebut juga dibuat menggunakan
plaftorm baru, tidak menggunakan produk yang sudah dipasarkan saat ini.
Disebutkan pula, pada tahap awal, mobil akan dijual di
Jepang. Namun tidak disebutkan berapa kisaran harganya. Saat ini Toyota sudah
memasarkan kendaraan listrik baik jenis plug in hybrid dan berbahan bakar
hidrogen atau fuel cell di seluruh dunia. Namun penjualan mobil hidrogen
terkendala dengan infrastruktur yakni fasilitas pengisian gas hidrogen.
Sebelumnya, Toyota dilaporkan juga akan memproduksi mobil
listriknya di China pada 2019. China merupakan pasar kendaraan listrik terbesar
di dunia sehingga menarik perhatian para produsen mobil global. Namun kendaraan
yang akan diproduksi di China tersebut akan menggunakan basis mobil SUV C-HR
yang masih menggunakan baterai lithium ion.
Baterai solid memanfaatkan elektrolit padat menjadikannya
lebih aman dibandingkan lithium ion yang saat ini banyak digunakan di pasaran.
Seperti diketahui, baru-baru ini Toyota menggelontorkan dana
sekitar Rp 7,6 triliun untuk memperoduksi kendaraan listrik di Thailand. Hal
tersebut dilakukan menyusul keputusan regulasi pemberian insentif kepada
pabrikan otomotif yang memproduksi mobil listrik (electric vehicle/EV) termasuk
hibrida.
Toyota pun sudah mendeklarasikan bahwa Thailand bakal
menjadi pusat produksi global untuk mobil kompak, termasuk model masa depan
dengan teknologi HEV. Bahkan Chairman Toyota Motor Thailand Ninnart
Chaithirapinyo, mejelaskan bahwa Toyota bukan hanya berencana memproduksi
sejumlah besar HEV, tapi juga meyediakan fasilitas pengelolaan limbah baterai
dan kendaraan yang rusak.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar